Skip to the main content

KISAH SANG PENDIRI

HM Aksa Mahmud, Founder Bosowa

HM Aksa Mahmud, dikenal sebagai pengusaha visioner yang tangguh. Hal itu terbukti dari pertumbuhan perusahaan Bosowa yang didirikannya pada tahun 1973. Dalam perjalanannya, Bosowa terus memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan. Berawal sebagai agen penjualan mobil merek Datsun, Bosowa bergerak begitu cepat dan meningkat menjadi distributor tunggal mobil merek Mitsubishi untuk seluruh wilayah Timur Indonesia.

Skala bisnis pun terus saja meningkat, merambah ke berbagai sektor seperti Semen, Otomotif, Mining, Properti, Infrastruktur, Jasa Keuangan, Energi, dan Media. Meski badai krisis yang melanda negeri ini di tahun 1998 cukup mengguncangkan dunia usaha di Indonesia. Menyusul badai krisis keuangan susulan pada tahun 2008, namun sedikit pun tidak mengendurkan semangat Bosowa untuk menunjukkan kinerjanya sebagai perusahaan pionir dari Timur. Bosowa terus berkembang dan telah masuk pada fase berikutnya seiring dengan pergantian tampuk pimpinan di tangan generasi ke dua di tahun 2006.

HM Aksa Mahmud lahir pada tanggal 16 Juli 1945 di Desa Lapasu, Kabupaten Barru, sekitar 120 km dari Makassar. Orang tuanya, H. Muhammad Mahmud dan Hj. Kambria, telah mengajarkan dengan baik elemen penting dalam kehidupan manusia, yakni agama. Dasar agama inilah yang menjadi bekal kuat bagi Aksa Mahmud untuk terus mengembangkan bisnisnya hingga sekarang.

Aksa Mahmud juga dikenal sebagai pengusaha yang senantiasa menyelaraskan unsur bisnis dan sosial melalui kegiatan filantropi yang telah dilakukannya sejak awal mendirikan Bosowa. Kehidupan sosial Aksa Mahmud terbentuk sejak kecil. Ayahnya selalu mengajarkan Aksa Mahmud untuk selalu berbagi kebahagiaan dengan kaum duafa, orang miskin, dan anak yatim. Baginya, semakin banyak melakukan aktivitas sosial akan semakin memudahkan semua pekerjaan.

Jiwa entrepreneur Aksa Mahmud sudah muncul sejak kecil. Saat menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, Aksa kecil biasa berjualan es, kurma saat bulan puasa, kulit kerang, permen, kacang, hingga meningkat dengan menjual hasil bumi yang dibawa ke daerah lain.

Ada tiga filosofi yang menjadi pegangan Aksa Mahmud yang diwariskan dan menjadi filosofi Bosowa Corporation, yakni tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras, tidak ada kemajuan tanpa pendidikan atau belajar yang baik, dan tidak ada keberhasilan tanpa kehendak Allah.

Aksa Mahmud tidak hanya ingin mengantar Bosowa sebagai pemain nasional tetapi juga pemain global. Karena itu, Aksa Mahmud mendidik anakanaknya untuk mempunyai wawasan dan pendidikan global, salah satunya dengan menyekolahkan mereka ke luar negeri. Aksa ingin Bosowa di generasi kedua semakin membesar, dan menjadi perusahaan publik.

Kepiawaiannya dalam bisnis mengantar Aksa Mahmud terlibat dalam organisasi bisnis maupun nonbisnis hingga panggung politik. Puncaknya pada Pemilu 2004, Aksa Mahmud terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang mengantarkannya menjadi Wakil Ketua MPR RI, yang semakin membulatkan tekadnya untuk sepenuhnya mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai negarawan.

Keberhasilan mewariskan imperium bisnis kepada anak-anaknya memberi waktu yang lebih banyak kepada Aksa Mahmud dan isteri untuk aktif di berbagai kegiatan sosial dan pendidikan dengan mengelola sejumlah yayasan, termasuk Bosowa Foundation. Mereka juga menjadi filantropis sebagai donatur kepada perorangan atau lembaga-lembaga sosial pendidikan yang membutuhkan dana. Tidak jarang Aksa Mahmud bergerak dan turun langsung dalam membantu masyarakat yang mengalami kesulitan hidup maupun bencana.

Aksa Mahmud senantiasa berpesan bahwa kebesaran Bosowa berasal dari moral dan akhlak yang baik. Belian juga selalu menegaskan bahwa Bosowa harus membawa berkah dengan menjaga keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat, serta bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.